Sanga-Sanga, Kota Perjuangan yang Mulai Dilupakan
KEHIDUPAN yang penuh ironi terus berulang dari tahun ke tahun di Sanga-Sanga, kota juang yang jaraknya kurang lebih 35 kilometer dari Ibukota Provinsi Kaltim, Samarinda. Bagaimana tidak, meski usia republik sudah memasuki 61 tahun kemerdekaan, warga kecamatan Sanga-Sanga laksana "ayam mati di lumbung padi." Meski berada di daerah yang makmur dan kaya akan cadangan sumber daya alam, namun penghuninya tetap menderita.
"Saya sangat sedih melihat kota kelahiran saya ini, bukannya semakin maju. Tapi dari tahun ke tahun tidak ada kemajuan yang nyata. Padahal, Sanga-Sanga ini kota perjuangan dan seharusnya menjadi kota wisata kebanggaan kita. Sebelum ada Balikpapan, Samarinda dan Handil, Sanga-Sanga lebih dulu dikunjungi orang," ujar Zulkifli, pemuda asli Sanga-Sanga yang saya temui di depan Kantor Kecamatan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Selasa, 16 Agustus 2005 lalu.
Mengaku lahir dan besar di Sanga-Sanga, Zulkifli merasa sangat iri dengan kemajuan yang terjadi daerah lain, seperti Kota Tenggarong, Samarinda atau Balikpapan, ketimbang kampung halamannya sendiri. "Dari dulu ya begini-begini saja. Tidak ada yang berubah, malah semakin susah. Lapangan kerja sulit dicari dan perusahaan-perusahaan yang ada disini hanya mengambil hasil alamnya saja, tidak ada kontribusi yang maksimal," tuturnya.
Tidak ada gairah pembangunan yang nampak di Sanga-Sanga. Bahkan kota yang memiliki andil dengan perjuangan republik ini mulai bergerak menjadi kota mati. Hampir tidak ada bangunan yang baru di pusat kota, kecuali gedung serba guna milik pemerintah setempat. Selebihnya hanyalah rumah dan kantor komplek milik perusahaan migas, rumah penduduk, pasar, dan terminal, serta bangunan sekolah yang telah "cukup umur".
Sepanjang perjalanan menuju Kelurahan Sanga-Sanga Muara, saya hanya mendapati sekitar satu kilometer saja ruas jalan di kota kecamatan ini yang kondisi jalannya masih cukup baik. Artinya masih terlapis aspal hitam. Selebihnya, sepanjang tujuh kilometer kondisi jalannya buruk. Lapisan aspal sudah tidak terlihat lagi. Yang nampak hanya jalanan berupa tanah yang jika hujan berubah menjadi lumpur.
Lubang-lubang besar dan kecil juga tersebar di sepanjang jalan tersebut. Jika hujan turun lubang-lubang itu menjadi kubangan air yang menghambat pengguna jalan. Jika hujan turun warga yang melewati jalan itu harus ekstra hati-hati karena kendaraan yang lewat bisa tergelincir.
Kejayaan sejumlah perusahaan migas di era tahun 1980-an, dengan hasil minyak sekitar 70.000 barel per hari kini sudah meredup. Saat ini, produksi mereka hanya 3.800 barel per hari. Denyut ekonomi di Sanga-Sanga saat ini nampaknya beralih dari sektor minyak ke tambang batu bara. Pasalnya, saat ini ada sekitar lima perusahaan tambang batubara yang menggeruk emas hitam dari perut bumi Sanga-Sanga. Lima perusahaan tambang itu diantaranya PT Alhassanie, PT Gudang Hitam Prima, PT Mutiara Hitam, PT Bina Mitra Sumber Arta, dan Primkoveri Unit Usaha Sanga-Sanga.
Zulkifli mengeluhkan sulitnya mencari lapangan pekerjaan kian hari kian berat, terlebih lagi jika harus bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah. "Kalau perusahaan membutuhkan tenaga kerja skill bolehlah mereka mengambil dari luar, tetapi kalau yang dibutuhkan tenaga kerja non skill kenapa kita sulit untuk bekerja," ungkapnya.
Hati zulkifli semakin miris, manakala dirinya menyaksikan situs-situs sejarah yang rusak dan hancur tak terurus. Mulai dari monumen perjuangan merah putih, museum perjuangan Sanga- Sanga, tugu perjuangan merah putih, bangsal perjuangan tentara RI-Jepang, hingga bangunan bersejarah lainnya.
"Ya ini kota wisata juang yang tidak dikelola menjadi sesuatu yang indah. Contohnya monumen palagan, dulu ada lampu-lampu hiasnya, sekarang sudah banyak yang hilang. Belum lagi bangsal perjuangan tentara RI dengan Jepang yang sudah ambruk, meski ada yang tersisa dan tidak terawat," tukasnya.
Jejak perjuangan tentara RI melawan penjajah di tahun 1947 silam masih terlihat dengan jelas di sepanjang perjalanan memasuki Sanga-Sanga. Di pintu gerbang kota kecamatan yang berpenduduk sekitar 11.000 jiwa ini, setiap orang akan melirik ke arah kiri dan menemukan deretan bambu runcing dan meriam ukuran kecil buatan tangan. Sementara di sisi kanan pintu gerbang, kita akan menemukan menara tua setinggi kurang lebih 10 meter dengan kran besi tak terawat, sebuah pemandangan mirip di ladang pengeboran minyak tempoe doeloe.
Memasuki pusat kota Sanga-Sanga, kita akan menemukan sebuah bangunan tua yang tak lain adalah bangsal pejuang, yang kini menunggu waktu untuk ambruk rata dengan tanah. Rumah tua terbuat dari kayu dengan deretan pintu-pintu yang tertutup rapat itu, bersebelahan dengan tanah kosong yang dulunya adalah dapur tempat masak para pejuang.
"Dulu ada bangsal 14, 15, dan 16 tetapi sudah ambruk semua dan sekarang lokasinya akan dijadikan mesjid raya. Diatas sekolah saya dulu yakni SMA PGRI berdiri dapur umum, tempat masak para pejuang. Tapi kini sudah hilang karena tidak ada yang merawat dan akhirnya rusak dan roboh dengan sendirinya. Monumen palagan yang ada di tengah kota itu, dulunya asrama Belanda," urai Zulkifli panjang lebar.
Monumen palagan atau monumen perjuangan merah putih Sanga-Sanga yang disebut Zulkifli terletak berhadapan dengan museum perjuangan. Kedua situs yang sejatinya banyak memberikan cerita dan pengetahuan mengenai sejarah Sanga-Sanga itu pun, kini mulai tidak terawat dan ditinggalkan.
Monumen perjuangan yang semestinya bersih dan terawat, telah menjadi sasaran tangan-tangan usil yang tak bertanggung jawab. Tidak hanya coretan graffiti yang menodai tembok, batu prasasti peresmian yang ditanda tangani Wapres Hamzah Haz juga dirusak oleh tempelan stiker calon pasangan pilkada Kukar.
Selasa siang itu, pintu pagar museum perjuangan merah putih tertutup rapat dan digembok. Tidak ada aktivitas yang nampak di museum tersebut, karena bangunan itu masih kosong dan benda-benda sejarah belum di pindahkan dari Balikpapan ke Sanga-Sanga. Hal ini karena status pengelolaan bangunan ini belum jelas antara Pemkab Kukar dengan pihak Kecamatan Sanga- Sanga.
"Seandainya diminta untuk mengelola museim, kita siap saja. Saat ini kita menunggu pemerintah tingkat II apakah akan menyerahkan pengelolaan kepada kita, karena itu proyek tingkat II," kata Camat Sanga-Sanga, Drs Halim kepada saya.
Diakui oleh Halim, untuk merawat bangunan dan benda bersejarah pihaknya masih kesulitan anggaran yang terbilang minim. Belum lagi, status pengelolaan yang masih tidak jelas antara pemerintah kabupaten, perusahaan atau kecamatan.
"Sebagian wilayah Sanga-Sanga ini merupakan Wilayah Kerja Pertambangan Medco-Pertamina. Hampir 80 persen dari luas wilayahnya, hal inilah yang membuat kita cukup kesulitan. Harapan saya bagaimana kita dapat menjaga bersama-sama Sanga-Sanga ini sebagai kota juang," kuncinya.
